Enter your email address:

Gempa Adalah Bencana Alam Paling Misterius


Gempa adalah bencana alam paling misterius, tak pernah memberi tahu kapan datangnya. Kalau gunung api meletus, ada tandanya, sehingga penduduk di lereng gunung itu bisa siap siaga. Begitu pula angin ribut, masih memberikan sinyal kapan terjadi, karena manusia bisa meramalkan datangnya. Apalagi banjir, sesungguhnya bisa diprediksi dengan melihat curah hujan di hulu, mengukur ketinggian air di bendungan, dan sebagainya. Kalau bencana-bencana itu masih juga meminta korban berjumlah besar, di dalamnya ada andil kesalahan atau kekurangcermatan manusia.

Tapi, gempa bumi? Belum bisa diramalkan. Ia datang kapan saja maunya dan tak ada siklusnya. Ia datang tak memandang musim panen atau musim paceklik, tak juga memperhitungkan situasi politik. Bahkan, pada saat umat Islam, yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini, menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, gempa itu datang menghancurkan ribuan rumah, menewaskan puluhan orang. Andaikata gempa itu berwujud manusia, kita bisa menonjok hidungnya, kok datang pada bulan yang disucikan? Kenapa tak di lain hari saja atau nggak usah datang?

Meski gempa demikian misterius, sebenarnya masih ada sedikit ilmu yang diketahui oleh manusia di sekitar gempa. Yakni, adanya patahan dalam bumi yang pergerakannya potensial menimbulkan gempa. Dan dari ilmu itu diketahui, kita hidup di atas pertemuan tiga patahan besar di dunia. Artinya, sewaktu-waktu gempa bisa datang, tak bisa dihindari sama sekali.

Konon, ilmu tentang patahan dalam bumi ini sudah begitu tua. Nenek moyang kita sudah mengetahuinya, entah dengan cara apa mereka mengetahuinya. Sebagai bukti, para leluhur kita dalam membangun rumah sudah memikirkan ancaman akibat goyangan gempa itu. Arsitektur tradisional berbagai etnis yang ada di Nusantara ini, konon, kebanyakan tahan gempa.

Gempa yang menghancurkan Bali bagian utara pada 1976 dijadikan bukti oleh para arsitek bahwa bangunan Bali tradisional memang tahan gempa. Itu sebabnya, pascagempa, pemerintah Bali mengkampanyekan kembali arsitektur khas Bali yang mulai ditinggalkan masyarakat. Contoh-contoh bangunan disebarkan ke masyarakat. Korban gempa yang mendapat kredit bank tanpa agunan untuk membangun rumah--tidak seperti sekarang, korban gempa umumnya mendapat bantuan cuma-cuma diharuskan membangun rumah sesuai dengan konsep “arsitektur tahan gempa”.

Masyarakat sudah siaga, namun gempa tak datang-datang--padahal memang itu yang diharapkan. Nah, dalam perkembangannya kemudian, arsitektur tahan gempa itu mulai dilupakan. Bahkan kini rumah-rumah bergaya modern, yang konon sangat keropos jika dilanda gempa, menjadi kegemaran baru warga desa. Bayangkan kalau saat ini datang gempa yang sama dahsyatnya dengan gempa di tahun 1976 itu.

Saya, dan tentu saja Anda, pastilah tidak berharap bencana itu datang. Yang hendak saya katakan adalah sebenarnya kita selalu “bermain judi” dengan bencana. Kita sudah diingatkan berdiam di daerah rawan gempa, tapi kita menganggap remeh hal itu dengan mengabaikan persyaratan hidup di daerah rawan gempa. Kita selalu berpikir bahwa bencana adalah nasib sial, takdir buruk yang tak bisa dicegah. Bahkan sebagian dari kita sering menganggap bencana sebagai cobaan dari Tuhan, atau malah kutukan dari Tuhan. Ah, bukankah Tuhan mahapengasih, kenapa harus main kutuk segala?

Terlepas dari ketidaksiapan kita hidup di daerah yang rawan gempa ini, saya tentu saja ikut prihatin dan berduka atas jatuhnya korban akibat gempa pekan lalu. Semoga keluarga korban tetap tabah. [ tempointeraktif.com ]
 

Artikel Lain :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar