Ketika Gunung Everest Takkan Bisa Lagi Didaki

Ketika Gunung Everest Takkan Bisa Lagi Didaki -- Apa atau yang lebih populer sebagai "Super Sherpa", pendaki gunung yang pertama kali menaklukkan Everest pada tahun 1989 mengatakan bahwa suatu hari, Everest mungkin takkan bisa didaki lagi.


http://assets.kompas.com/data/photo/2010/05/23/0827336620X310.jpg

Apa sebabnya? Ia mengatakan bahwa pemanasan global berdampak pada jumlah es di Himalaya. Berkurangnya jumlah es menyebabkan jalur pendakian lebih berbahaya.

"Tahun 1989, ketika pertama mendaki Everest, ada banyak salju dan es. Tapi sekarang, semua menjadi batu telanjang. Dampaknya, semakin banyak batuan jatuh yang berbahaya bagi pendaki," kata Apa.

Dikutip Daily Mail, Senin (27/2/2012), Apa juga mengungkapkan, "Pendakian juga semakin sulit sebab ketika di gunung dulu Anda bisa memakai crampons (sepatu yang didesain khusus untuk mendaki di gunung berlapis es), tapi sekarang sangat licin dan berbahaya untuk berjalan di permukaan batuan."

Apa adalah anggota komunitas Sherpa di Himalaya. Sejak usia 12 tahun, ia mulai bekerja sebagai pembawa perlengkapan bagi pendaki Himalaya. Tahun lalu, ia memecahkan rekor sebagai pendaki yang telah menaklukkan Everest sebanyak 21 kali. Kini, Apa tinggal di Salt Lake City, Amerika Serikat.

Ia menyerukan perlunya perhatian pada isu pemanasan global serta upaya mengatasinya. Jika tidak, keindahan puncak Everest mungkin benar-benar akan menjadi sesuatu yang hanya bisa dibayangkan. ( kompas.com )

READ MORE - Ketika Gunung Everest Takkan Bisa Lagi Didaki

Resiko Mengganti Ban Sepeda Motor dengan yang Lebih Lebar

Resiko Mengganti Ban Sepeda Motor dengan yang Lebih Lebar -- Penggantian ban dengan ukuran lebih besar dari standarnya, dipastikan menimbulkan masalah. Pasalnya, ban tidak bisa dipasang langsung (plug and play). Gajalan utama, lebar lengan ayun, pelek, sproket dan sebagainya.


http://oto.assets.kompas.com/uploads/photo/2012/02/27/0c0589b732a0fcf74f1931761577faf3_p.JPG

Tips yang diberikan oleh Ari modifikatordari BMS (Baru Motor Sport) dibilangan Pasar Palmerah, Jakarta bisa dimanfaatkan. Menurutnya, "Jika mengganti dengan ban lebih besar, ideal naik satu atau dua tingkatl, baik ban depan atau belakang."

Misalkan ban standar 100/70 di depan (lebar telapak 100 mm, dtinggi 70 mm), dan belakang 120/70, paling gampang diganti dengan 110/80. Hasilnya, ban menjadi lebih lebar namun menjadi tinggi. Sedangkan belakang, bisa 150/70 sehingga ban terlihat lebar namun ketinggian tetap sama.

Ukuran itu harus diperhatikan, baik lebar atau tinggi ban (depan atau belakang) tidak boleh naik lebih dari dua tingkat. Jika tidak, mengakibatkan usia ban jadi pendek dan handling juga kurang baik. Misalkan jika tinggi berlebihan, bagian tengah ban akan lebih cepat habis.

Masalah lain yang muncul, akselerasi awal menjadi berat. Keuntungannya, lebih stabil, karena menelapak lebih baik di aspal. ( kompas.com )

READ MORE - Resiko Mengganti Ban Sepeda Motor dengan yang Lebih Lebar

Jika Mesin Motor Mendadak "Batuk-batuk"

Jika Mesin Motor Mendadak "Batuk-batuk" — Sangat menjengkelkan ketika motor mendadak "batuk-batuk" atau suara dari knalpot terdengar "nembak-nembak" saat Anda sedang berkendara. Gejala seperti itu membuat laju motor menjadi tidak lancar alias tersendat-sendat.


http://assets.kompas.com/data/photo/2009/12/29/1350054p.jpg

Solusi paling cepat dan aman, segera bawa motor ke bengkel. Tak ada salahnya juga kalau Anda perlu mengetahui biang penyebabnya supaya Anda sudah paham atau tidak dibohongi ketika membawa motor ke bengkel. "Ada beberapa hal yang menyebabkan timbul suara ledakan dari knalpot," ucap Rusiyanto dari divisi teknik PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI).

Cuk atau "choke"

Jika Anda lupa menutup cuk saat menghidupkan mesin di pagi hari, nah, saat jalan, pembakaran yang terjadi tidak sempurna akibat campuran bensin yang terlalu banyak. "Jika kondisi ini dibiarkan, tentu akan berakibat pada usia busi. Selain itu, busi cepat mati karena cenderung basah oleh bensin," beber Abdul Rohim, mekanik dealer Honda Wahana Makmur Sejati.

Busi

Komponen ini bisa menyulut timbulnya suara ledakan lantaran kondisi komponen tersebut sudah mau mati. Biasanya, menurut Abdul Rohim, itu terjadi karena elektroda busi sudah terlalu basah atau banyak kerak. Jika dipakai terus, maka muncul gejala seperti kerusakan di komponen suplai udara bersih. Akibatnya, campuran udara dan bahan bakar di ruang bakar jadi tak sempurna.

Karburator

Sekarang ini tak sedikit motor yang mengaplikasi karburator model vakum atau beken disebut velocity constanly (VC). Skep digerakkan oleh karet yang mengandalkan kevakuman. Makanya, jangan biarkan karet tersebut aus. Kalau sampai aus, maka proses kevakuman jadi tidak sempurna. Ini yang menyebabkan mesin brebet saat motor dibetot.

Suplai udara

Suara ledakan bisa juga muncul akibat ada kerusakan pada bagian penyuplai udara bersih ke ruang bakar. Gejalanya, suara tidak enak timbul ketika motor berakselerasi dan gas ditutup penuh. Makanya, saat putaran mesin turun, munculah suara ledakan. "Jadi, pastikan AIS (air secondary system) berfungsi sempurna," saran Rustiyanto. ( kompas.com )

READ MORE - Jika Mesin Motor Mendadak "Batuk-batuk"

Penemuan Makhluk Hidup Baru Amfibi Tanpa Kaki

Penemuan Makhluk Hidup Baru Amfibi Tanpa Kaki - Peneliti yang sedang menggali lumpur di timur laut India telah menemukan satu keluarga baru amfibi tanpa kaki. Penemuan ilmiah yang ditulis dalam laporan mendetil Rabu (22/2) termasuk sangat jarang terjadi.


http://3.bp.blogspot.com/-TIIrujq3o9Q/TaiKNgUeWZI/AAAAAAAAA9I/1o9LB1Ww3gU/s1600/10+Hewan+Langka+yang+telah+ditemukan8.jpg


Mahluk tanpa buntut penggali tanah ini ditemukan oleh sekelompok ilmuwan yang sudah bekerja selama lima tahun di desa-desa terpencil negara bagian India, termasuk Sikkim, Arunachal Pradesh, dan Nagaland.

"Analisis DNA sudah membuktikan bahwa mahluk ini adalah keluarga baru," kata SD Biju, profesor di University of Delhi yang memimpin anggota tim dari Inggris dan Belgia, kepada AFP.

"Kerusakan habitat adalah masalah besar untuk amfibi di seluruh dunia, dan temuan seperti ini membuktikan bahwa kita harus melindungi lingkungan untuk menyelamatkan kehidupan yang belum kita ketahui," kata dia.

Menurut Biju, pencarian mahluk mirip cacing ini sangat menantang. Ia dan timnya harus menggali dengan sekop di 250 lokasi berbeda. Mahluk bernama Chikilidae ini berukuran panjang 20 cm dan kadang menggali sampai 25 cm ke dalam tanah.

Chikilidae, berasal dari bahasa lokal suku Garo, adalah yang ke-10 ditemukan dari grup amfibi caecilian.

"Penemuan ini membuktikan bahwa kawasan timur laut India sangat kaya dari sisi satwa dan ekosistem," kata Biju. "Kita harus belajar lebih banyak tentang kawasan ini."

Laporan penelitian temuan juga menyebut salah satu ancaman akan amfibi tanpa kaki yang tak berbahaya ini adalah penduduk lokal melihat mereka sebagai ular berbahaya. Temuan ini sudah diterbitkan di jurnal penelitian Proceedings B dari Royal Society of London.
( AFP )

READ MORE - Penemuan Makhluk Hidup Baru Amfibi Tanpa Kaki

Inilah Tanaman Purba Yang Berhasil Dihidupkan Kembali Oleh Ilmuan Rusia

Inilah Tanaman Purba Yang Berhasil Dihidupkan Kembali Oleh Ilmuan Rusia - Sebuah tanaman dari abad Pleistosen, sekitar 30.000 tahun lalu, kembali dihidupkan oleh ilmuwan Rusia. Mereka berhasil meregenerasi sel beku tanaman yang mereka temukan di bawah lapisan es abadi di wilayah Siberia timur laut.


http://image.tempointeraktif.com/?id=106966&width=475
Thechronicleherald.ca


Tanaman ini dibudidayakan di laboratorium dengan mengunakan teknik budidaya klonal. Biji dari tanaman purba ini ditemukan bersama sejumlah biji-bijian di dalam sarang tupai yang diperkirakan terkubur di lapisan es sejak 30.000 tahun lalu. Dinginnya lapisan es membuat biji tetap awet.

"Dibutuhkan bertahun-tahun untuk mengaduk-aduk sarang tupai ini," ujar Stanislav Gubin, salah seorang peneliti, seperti dikutip www.abcnews.com, Senin, 20 Februari 2012.

Kini para ilmuwan Rusia itu melaporkan mereka mampu menanam tanaman tersebut di pot. Bahkan tanaman ini berhasil tumbuh subur. Hasil penelitian ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Proceedings of The National Academy of Sciences.

Svetlana Yashina dari Institut Biofisika your Academy Of Sciences Rusia, yang memimpin upaya regenerasi, mengatakan tanaman yang dihidupkan kembali tampak sangat mirip dengan versi asli. "Ini adalah tanaman yang sangat layak dan menyesuaikan diri dengan sangat baik," katanya kepada The Associated Press.

Adapun jenis tanaman purba ini dinamai Silene stenophylla, versi tanaman bunga yang hidup di daerah tundra yang kering. Dengan dilakukannya penelitian ini maka menjadi bukti penting bahwa kehidupan lapisan es dapat dimanfaatkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Lapisan es di Arktik merupakan harta karun kehidupan kuno. Dan bukan hanya kehidupan kuno yang kita anggap sebagai fosil, tetapi juga kehidupan kuno yang layak hidup kembali," kata ahli paleontologi Yukon Hibah Zazula. ( tempo.co )

READ MORE - Inilah Tanaman Purba Yang Berhasil Dihidupkan Kembali Oleh Ilmuan Rusia