Ternyata Inilah Misteri `Batu Berjalan` di Lembah Kematian


Hampir seabad pergerakan batu-batu besar di Death Valey menjadi misteri. Namun, kini telah terungkap bagaimana cara bati-batu itu berpindah tempat.

Hampir seabad batu-batu yang berada di Death Valey atau Lembah Kematian menjadi misteri ilmu pengetahuan. Bebatuan besar yang rata-rata beratnya sekitar 320 kilogram didapati berpindah tempat. Seolah ada kekuatan magis yang memindah dari satu titik ke titik yang lain. Batu-batu ini seperti punya kaki.

Hanya terdapat bekas goresan pada lumpur yang sudah kering saja, sebagai petunjuk adanya pergeseran batu. Sementara bagaimana dan apa penyebab batu-batu itu berpindah tempat, menjadi misteri dalam jangka waktu sangat lama. Pengamatan demi pengamatan yang dilakukan para ilmuwan hanya mendapati padang debu dan tanah retak saja.

Namun, kali ini para ilmuwan tak bingung lagi. Pertanyaan seputar fenomena aneh itu sudah terpecahkan. Bisa dijelaskan secara ilmiah pula. Sehingga, tak ada anasir magis yang tak bisa dicerna akal manusia dalam proses pergeseran batu-batu yang kerap disebut 'sailing stones' atau 'batu-batu berlayar' tersebut.

Ternyata Inilah  Misteri `Batu Berjalan` di Lembah Kematian

Menurut laman Daily Mail, Kami 28 Agustus 2014, misteri itu diungkap oleh ilmuwan dari San Diego. Para ilmuwan tersebut mengklaim telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana batu-batu itu pindah dari satu titik ke titik lain pada Lembah Kematian yang berada di wilayah Amerika Serikat itu.
Tak mudah memang bagi para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography, San Diego, untuk mendapat jawaban itu. Mereka bahkan tak pernah berharap untuk melihat pergerakan batu-batu itu. Sebab, selama puluhan tahun melakukan pengamatan, hanya mendapati batu-batu itu duduk terdiam di atas tanah gersang itu.

Hingga pada suatu saat mereka memutuskan untuk memonitor bebatuan itu dengan memasang GPS pada sejumlah batu serta alat pengintai stasiun cuaca yang memiliki resolusi tinggi yang bisa mengukur riak air untuk interval satu detik saja. Alat-alat itu dipasang pada 15 batu di sana.

Penelitian ini dilakukan pada musim dingin 2011 silam. Tetunya dengan izin petugas taman tersebut. Kepala penelitian, Ralph Lorenz, menyebut eksperimen itu merupakan penelitian paling membosankan yang pernah dia lakukan. Karena harus menunggu pergerakan batu-batu yang tidak berkaki.

Tapi pada Desember 2013, Richard Norris, penulis penelitian, serta sepupu Norris, Jim Norris, datang ke Lembah Kematian. Kala itu mereka menemukan danau, yang juga disebut Playa, tertutup air dengan ketinggian sekitar tujuh sentimeter. Tak lama setelah itu, mereka melihat sebuah keajaiban, batu-batu di hadapan mereka bergerak.

"Ilmu pengetahuan kadang-kadang memiliki unsur-unsur keberuntungan," kata Norris. "Kami memperkirakan menunggu lima hingga sepuluh tahun tanpa ada apapun yang bergerak, namun hanya dalam waktu dua tahun proyek ini berjalan, kami hanya kebetulan saja berada di sana pada waktu yang tepat untuk melihat sendiri hal itu terjadi."

Dari pengamatan mereka menunjukkan bahwa batu-batu yang bergerak itu memerlukan kombinasi peristiwa yang langka. Pertama, Playa terisi air, yang harus memiliki ketinggian yang cukup untuk mengambangkan es selama malam-malam di musim dingin, tapi juga cukup dangkal untuk mengangkat batu.
Saat malam tiba, temperatur di wilayah itu menjadi turun. Kolam yang berisi air itu kemudian membeku. Lembaran-lembaran es pun terbentuk, menyerupai kaca-kaca jendela, yang cukup tipis untuk bergerak bebas, tapi juga harus agak tebal untuk mempertahankan kekuatannya.

Saat hari mulai cerah, es mulai mencair dan kemudian pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang mengambang, dengan angin yang berhembus tipis saja di atas kolam luas itu, ditambah licinnya es yang mulai mencair, batu-batu yang berada di atas kolam terdorong. Meninggalkan jejak di lumpur lunak yang berada di bawah permukaan.

"Pada 21 Desember 2013, es pecah sekitar tengah hari, dengan terdengar suara retakan yang datang dari seluruh permukaan yang membeku. Saya bilang kepada Jim, ini dia," kata Richard Norris.

Fenomena ini telah membalikkan teori-teori yang sebelumnya banyak bermunculan, seperti kekuatan badai, setan debu, alga licin, atau lembaran es yang tebal, yang mempengaruhi pergerakan batu itu.

Sebaliknya, batu-batu itu bergerak di bawah angin spoi-spoi, yang berhembus 3 hingga 6 meter perdetik dan didorong dengan es yang tebalnya hanya 3 hingga 5 milimeter saja. Ukuran yang sangat mustahil untuk mengangkat batu-batu besar. Namun, es tipis itu telah mengurangi gesekan dengan permukaan tanah.

Menurut pengamatan, batu-batu itu bergerak lamban, hanya sekitar 2 hingga 6 meter per menit. Sebuah pergerakan yang nyaris tak bisa dilihat dari kejauhan. "Ada kemungkinan wisatawan benar-benar melihat ini terjadi tanpa disadari," kata Jim Norris.

Batu-batu itu bergerak ke tempat lain antara beberapa detik sampai16 menit. Dalam salah satu kesempatan, para peneliti mengamati batu yang berada pada bidang seluas tiga kali lapangan bola. Batu itu bergerak terus menerus hingga jarak sekitar 60 meter, sebelum akhirnya berhenti.

Para peneliti yakin bebatuan itu telah berkali-kali bergerak sebelum akhirnya mencapai tempat terakhir. Mereka menduga pergerakan terakhir sebelumnya terjadi pada 2006. "Sehingga batu dapat bergerakhanya seperjuta waktu saja," kata Profesor Lorenz.

"Ada juga bukti bahwa frekuensi gerakan batu, yang membutuhkan malam yang dingin untuk membentuk es, kemungkinan telah menurun sejak tahun 1970 karena perubahan iklim," tambah Lorenz.

Lantas, dengan temuan itu, apakah misteri batu bergerak di Lembah Kematian telah terungkap? "Kami mendokumentasikan lima peristiwa pergerakan batu dalam dua setengah bulan di kolam itu dan beberapa diantaranya melibatkan ratusan batu," ujar Norris.

"Jadi kami telah melihat bahwa meskipun di Death Valey, yang terkenal panas, es mengambang merupakan kekuatan besar dalam pergerakan batu," tambah Norris. Namun para ilmuwan itu sebelumnya belum pernah melihat batu-batu besar bergerak dengan mekanisme seperti yang ditemui di Lembah Kematian ini.
sumber: dream

READ MORE - Ternyata Inilah Misteri `Batu Berjalan` di Lembah Kematian

Injil Inspirasi Pengawetan Jantung Raja Richard


Injil Inspirasi Pengawetan Jantung Raja Richard - Jantung Raja Richard Berhati Singa diawetkan dengan merkuri, mint, dan kemenyan serta tumbuhan berbau wangi lain. Komposisi bahan kimia berbagai substansi yang dipakai untuk mengawetkan jantung penguasa Inggris itu terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Prancis.

Studi tersebut merupakan penelitian biokimia pertama terhadap jantung Richard I, yang meninggal pada 1199. Ketika wafat, sebagai sebuah praktek yang umum dilakukan pada masa itu, jantungnya dikeluarkan dan dimumifikasi secara terpisah dari tubuhnya. Jantung itu pun disimpan di tempat berbeda, yaitu di Notre Dame di Rouen selama berabad-abad sampai ditemukan kembali pada 1838.

http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/x.BTZAbrtbZncfK1hXNJ2w--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yODk7cT04NTt3PTUxMg--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/tempo/168795.jpg

"Bahan yang digunakan terinspirasi langsung dari naskah Injil," kata Philippe Charlier, peneliti dari University Hospital R. Poincaré di Prancis. "Tujuannya untuk mendekati bau kesucian."

Raja Richard I mulai memerintah pada 1189, dan sempat diculik serta ditahan di Eropa selama dua tahun. Pada 25 Maret 1199, Richard terkena panah di Chalus, Prancis, dan meninggal 12 hari kemudian karena terkena gangrene.

Isi perutnya diangkat dan disimpan di Chalus, sedangkan tubuhnya dimakamkan di Fontevraud Abbey di Prancis. Jantungnya diawetkan dan ditaruh dalam peti tersendiri, lalu dibawa ke Notre Dame di Rouen.

»Pembagian dan penyebaran jenazah tersebut dilakukan untuk menyimbolkan dan menandai daerah kekuasaan Richard I,” kata Charlier. Namun tak ada naskah kuno yang mencatat bagaimana proses pengawetan dilakukan.

Jantung Richard I tetap berada di Rouen hingga Juli 1838, ketika sejarawan setempat menemukan sebuah kotak timah bertulisan, »Inilah jantung Richard, Raja Inggris”. Jantung tersebut kini telah menjadi debu, serbuk putih kecokelatan.

Dari serbuk tersebut, Charlier dan timnya menemukan beragam senyawa, termasuk jejak protein otot jantung manusia. Mereka juga mengamati potongan kecil kain linen yang menunjukkan jantung itu dibungkus dengan kain sebelum disimpan dalam kotak.

Senyawa logam, seperti timah, kemungkinan berasal dari kotak penyimpanan. Senyawa lain kemungkinan digunakan dalam proses pengawetan, seperti unsur merkuri yang biasa ditemukan dalam makam abad pertengahan.

Peneliti juga menemukan serbuk sari beraneka macam tumbuhan myrtle, daisy, mint, pinus, ek, poplar, plantain, dan bellflower. Polen poplar dan bellflower, yang mekar pada April bertepatan dengan wafatnya Richard, kemungkinan terbawa angin ke dalam peti. Tanaman lain, seperti myrtle, daisy, dan mint kemungkinan sengaja digunakan untuk mengawetkan. Kemenyan, yang berasal dari getah pohon, mungkin berguna baik untuk mengawetkan maupun makna simbolis bahan tersebut.

Proses pengawetan jantung itu sangat penting karena perjalanan dari Chalus ke Rouen mencapai 530 kilometer. »Namun para pengikutnya mungkin juga melihat proses itu sebagai salah satu transformasi teologis,” kata Charlier. ( tempo.co )


READ MORE - Injil Inspirasi Pengawetan Jantung Raja Richard

Inilah Moyang Dari Sekalian Makhluk Yang Ada Di Dunia Ini


Inilah Moyang Dari Sekalian Makhluk Yang Ada Di Dunia Ini - Fosil moyang segala makhluk di Bumi ditemukan. Fosil itu dinobatkan sebagai fosil tertua, berasal dari masa 3,49 miliar tahun lalu, hanya 1 miliar tahun setelah Bumi terbentuk.

Tak seperti umumnya fosil yang harus digali, fosil ini ditemukan di permukaan batuan tertua di Bumi yang terdapat di wilayah Pilbara, Australia bagian barat. Fosil berupa jejak koloni bakteri purba.

http://assets.kompas.com/data/photo/2013/01/03/1714482-stromatolit-620X310.jpg
Stromatolit di Shark Bay, Australia Barat.
 
"Koloni bakteri ini adalah fosil tertua yang pernah dideskripsikan. Mereka adalah moyang tertua kita," kata Nora Noffle, peneliti biogeomikia dari Old Dominion University di Norfolk, seperti dikutip Washington Post, Selasa (1/1/2013).

Fosil bakteri tepatnya ditemukan di Strelley Pool Formation, struktur sedimen disebut stromatolit di Pilbara. Sejak 1980, peneliti menduga bahwa struktur tersebut terbentuk oleh bakteri. Namun, saat itu peneliti belum yakin sebab stromatolit juga bisa terbentuk sebab lain seperti arus.

Dalam penelitian ini, ilmuwan menganalisis karbon yang menyusun stromatolit. Benda mati biasanya tersusun atas 99 persen karbon-12 yang lebih ringan dan 1 persen karbon 13. Sementara makhluk hidup seperti bakteri fotosintetik tersusun atas lebih banyak karbon 12 dan sedikit karbon 13.

Analisis menunjukkan bahwa berdasarkan jenis karbon penyusunnya, ada fosil makhluk hidup pada batuan tersebut. Namun, jenisnya tak bisa diketahui sebab tak ada lemak atau protein tertinggal yang bisa digunakan untuk penentuan jenis.

Penemuan fosil ini tidaklah mudah. Masalahnya, peneliti harus mencari situs terbaik, situs batuan purba yang minim kontaminasi. Wilayah Pilbara menyimpan batuan terbaik untuk peneltian kehidupan purba yang berasal dari masa Archaea, masa yang berakhir 2,5 miliar tahun lalu.

"Mempelajari kehidupan lampau seperti ini tak ubahnya mempelajari bagaimana Bumi bisa menjadi seperti sekarang," kata Michael Tice, pakar biogeokimia dari Texas A&M University yang juga terlibat riset.

Penelitian ini juga membantu ilmuwan mencari bentuk-bentuk kehidupan di luar Bumi. Lingkungan Mars, misalnya, diduga menyimpan kehidupan sederhana. Temuan terakhir, Mars ternyata memiliki jejak air. ( kompas.com )


READ MORE - Inilah Moyang Dari Sekalian Makhluk Yang Ada Di Dunia Ini

Tangkuban Perahu Meletus, 15 Gunung Lainnya Waspada


Sejak ditetapkan statusnya naik dari normal menjadi waspada level 2 pada 21 Februari 2013 lalu, Gunung Tangkuban Perahu akhirnya meletus sejak Senin (4/3/2013) hingga Rabu (6/3/2013) hari ini. Namun tipe letusan bersifat freatik, yakni mengeluarkan abu dan pasir vulkanik dari dalam kawah pusat.

Fenomena letusan freatik yang jarang ditemui di gunung Tangkuban Perahu ini terekam melalui ponsel milik anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat.

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Surono mengatakan, letusan yang terekam itu menandakan aktivitas vulkanik naik setiap harinya. Tidak hanya Senin (4/3/2013) kemarin, letusan kembali terjadi Rabu (6/3/2013) pagi tadi yaitu pukul 5.59 WIB.

http://assets.kompas.com/data/photo/2013/03/06/1540522-20130306k7713-tangkuban-perahu-meletus-620X310.jpg
Sejak ditetapkan naik status dari Normal menjadi waspada level 2 pada tanggal 21 Februari 2013 pukul 22.30 WIB lalu, Gunung Tangkuban Parahu akhirnya meletus dengan tipe letusan phreatik mengeluarkan abu dan pasir vulkanik dari dalam kawah pusat, Kawah Ratu sejak Senin (4/3/2013) pukul 17.43 WIB.

Sama seperti letusan dua hari lalu, letusan ini juga mengeluarkan abu dan material vulkanik lainnya. "Kekuatan letusan ini lebih besar dari tanggal 21 Februari. Walaupun letusannya kecil-kecil tapi dipastikan ada peningkatan setiap harinya," kata Surono saat ditemui di Kantor Pusat PVMBG, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (6/3/2013).

Dari rekaman video yang diputar di ruang pertemuan di kantor pusat PVMBG, pria yang akrab disapa Mbah Rono ini memprediksi ketinggian semburan pasir dan abu vulkanik letusan pada Senin lalu mencapai 500 meter dari pusat kawah. Atau dapat dikatakan melebihi lapangan parkir yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari pusat kawah.

Sementara pada Rabu pagi tadi, lanjut Surono, letusan berlangsung sekitar 8 menit dengan ketinggian abu vulkanik sekitar 30 meter di atas lembah maut, kawah Ratu.

"Untuk tekanan cenderung ke arah Subang dengan kedalaman tekanan 1.000 meter, lebih dalam dari tanggal 2012 kemarin sekitar 300 meter," tuturnya. 

Selanjutnya, Peningkatan aktivitas gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat, menjadi status waspada sejak tanggal 23 Agustus lalu telah membuat masyarakat sekitar panik dan menjadi berita heboh. Hal itu terjadi karena penutupan sementara tempat wisata gunung serta beredarnya informasi itu meresahkan bahwa gunung Tangkuban Perahu akan meletus.

Meski demikian, warga diminta tetap tenang dan tidak perlu takut hadapi pengingkatan aktivitas gunung tersebut. Demikian disampaikan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono seusai diskusi tentang kemitraan Indonesia dan Amerika Serikat dalam program pencegahan bencana gunung berapi di pusat kebudayaan AS, @america, Jakarta, Rabu (5/9/2012).

Surono menegaskan, penutupan sementara tempat wisata Tangkuban Perahu karena volume gas yang keluar dari gunung tersebut telah melampaui batas dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, dia meminta warga tidak perlu takut dan panik.

"Tidak perlu sebetulnya warga di sekitar Tangkuban Perahu itu panik, yang berbahaya itu hanya radius satu setengah kilometer dari puncak Tangkuban Perahu," kata Surono.

Selain Gunung Tangkuban Perahu, ada 15 gunung berapi lainya di Indonesia yang menunjukkan peningkatan aktivitas dan berstatus waspada, salah satunya Gunung Marapi di Sumatera Barat.

Terkait kemitraan Indonesia dan AS melalui USAID, saat ini Indonesia mendapatkan dukungan berupa peningkatan teknologi dan modernisasi jaringan alat pemantau aktivitas gunung berapi di Indonesia. ( kompas.com )

Blog : Berita TekhnologiTangkuban Perahu Meletus, 15 Gunung Lainnya Waspada

READ MORE - Tangkuban Perahu Meletus, 15 Gunung Lainnya Waspada

Penemuan Ruang Kelas Astronomi Suku Maya


Penemuan Ruang Kelas Astronomi Suku Maya - Sekelompok arkeolog dari Amerika Serikat berhasil menemukan ruangan kecil dalam reruntuhan peninggalan Suku Maya di hutan hujan Xultun, timur laut Guatemala. Ruangan dinding penuh dengan coretan astronomi itu diperkirakan jadi 'ruang kelas' bagi para astronom suku tersebut.

Coretan ini juga berisi perhitungan kalender rumit yang ditaksir berusia 1.200 tahun. Sebelumnya sudah diketahui jika Suku Maya memiliki pengetahuan luar biasa di zamannya mengenai astronomi. Namun, penemuan sebelumnya hanya berusia 600 tahun. Dan penemuan ini mengartikan ilmu astronomi Suku Maya sudah hadir jauh sebelum waktu tersebut.

http://static.liputan6.com/201205/120514bsuku-maya.jpg

Ruang belajar ini hanya berukuran 1,8 meter per segi dan merupakan bagian dari kompleks besar reruntuhan Suku Maya di Xultun. Selain coretan astronomi dan kalender, terdapat juga sosok raja yang tengah duduk bersama dengan beberapa sosok lainya. Namun, ditegaskan para peneliti dalam jurnal Science, sosok tersebut tak ada hubungannya dengan disiplin astronomi Suku Maya.

Satu bagian khusus dari dinding itu berisikan fase Bulan selama 13 tahun. Menurut para peneliti, hitungan ini dilakukan untuk menentukan dewa mana yang tengah mengawasi Bulan pada saat tertentu.

Ditambahkan ahli astronomi Suku Maya dari Colgate University, New York, Anthony Aveni, jika perhitungan ini juga digunakan ahli nujum untuk memperkirakan bulan purnama. Waktu tersebut kerap disarankan untuk memulai perang atau kapan waktu tepat untuk mulai menanam. "Apa yang Anda lihat di sini adalah astronomi yang didorong oleh agama," kata Aveni.

Berdekatan dengan dinding kalender, terdapat dinding dengan angka acak. Belum ada penjelasan pasti dari arti coretan tersebut. Tapi diperkirakan coretan ini digunakan ahli nujum untuk perhitungan beberapa even penting yang berhubungan dengan pergerakan benda langit seperti planet dan Bulan.(NatGeo/ADO)


READ MORE - Penemuan Ruang Kelas Astronomi Suku Maya