Fenomena Bayang - Bayang Pembekuan Global

Fenomena Bayang - Bayang Pembekuan Global - Sebagian besar orang mengkhawatirkan terjadinya pemanasan global. Tapi di masa lalu pembekuan global merupakan kekhawatiran terbesar di bumi.

Ilmuwan masih mendebatkan fenomena pendinginan yang menyebabkan peristiwa 'Snowball Earth' atau Bola Salju Bumi. Belum jelas bagaimana bumi bisa membeku dengan sendirinya. Satu kelompok penelitian mempelajari bahwa pemanasan dari efek rumah kaca yang berlebihan telah mengakhiri masa pendinginan global bertahun-tahun.


Bukti adanya bola salju Bumi ini berasal dari data paleomagnetik yang diambil dari deposit glasial kuno. Dari sifat magnetik materi itu, ahli geologi mengambil kesimpulan adanya batuan es yang berasal dari lintang rendah. Hasil mengejutkan tersirat Bumi sebagai planet beku.



http://static.inilah.com/data/berita/foto/962682.jpg


"Saat Anda menemukan bukti lapisan es di kawasan tropis maka ini semua berasal dari snowball," kata Alexander Pavlov dari University of Arizona.

Es memantulkan lebih dari dua kali sinar matahari yang mengarah ke tanah gundul atau lima kali lipat pantulan air. Akibatnya, saat es menyebar maka semakin sedikit panas yang dipertahankan permukaan. Suhu rata-rata global saat itu diperkirakan mencapai minus 50 derajat Celcius.


"Inilah yang menyebabkan sulitnya melarikan diri dari snowball," kata Pavlov. Akibatnya, semakin sedikit radiasi yang diserap Bumi untuk menghangatkan planet ini.


Sebagai bagian dari program Astrobiology, Exobiology and Evolutionary Biology milik NASA, ilmuwan mulai mempertibangkan implikasi dari pencarian habitat planet.


Jika melepaskan diri dari fenomena snowball begitu sulit, maka planet lain yang kita harapkan memiliki kandungan cairan juga mugkin beku secara permanen.


Meskipun terdengar aneh bahwa tingkat CO2 di atmosfir mungkin dikendalikan oleh posisi benua, tapi ini juga terkait dengan kadar pelapukan batuan secara kimia. Karbon dioksida di udara dapat larut ke dalam air hujan dan menciptakan asam karbobat di batuan mineral seperti silikat. Melalui reaksi itu, karbon dioksida berubah menjadi karbonat sehingga mengurangi jumlah gas rumah kaca di atmosfer.


Biasanya, skema ini muncul pada cuaca yang hangat sehingga sebagian besar benua sepanjang khatulistiwa akan mengalami pelapukan. Pada akhirntya terjadi penurunan yang signifikan dalam jumlah CO2 yang mendinginkan benua ini. ( inilah.com )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia Purba Ternyata Lebih Maju Dari Indonesia Modern

Ternyata Orang Eropa Adalah Keturunan Firaun

Mengenal Nikotin Sebagai Obat, Manfaat Dan Bahayanya